macapat the way of life
malam itu seperti biasa aku sedang nongkrong di tempat favorit kita semua yaitu "burjo mang indra" ini tempat favorit yang apa-apa ada makanan ada, minuman ada, tempat duduk ada, orang ceramah ada, orang diskusi ada, ilmu kanuragan dan kebatinan ada, iwan fals juga ada huehehe, karna malam itu yang ada adalah mas fajar maka yang ada malam itu adalah ilmu tentang budaya karena sebagai orang yang bergelut dengan budaya seneng sekali kalo aku ngobrol budaya sama mas fajar ini
setelah ngobrol ngalor ngidul entah dimulai karena apa pembicaraan kita pada satu titik tentang mocopat sebuah kebudayaan jawa yang sepoertinya cukup lama tidak saya bahas, sebuah budaya yang menunjukkan keragaman dan kekayaan budaya jawa yang begitu tinggi, kalo kata temenku sih kebudayaan mesir kuno sama suku maya aja yang ngajarin orang jawa huehehe *yang ini kita bahas kapan2 aja soalnya ini levelnya udah kanuragan dan kebatinan, lebih tinggi* kembali ke mocopat, mungkin anak muda jaman sekarang, jangan kan indonesia orang jawa sendiripun gak pasti paham dengan mocopat itu sendiri, budaya dan kapitalisme emang bener benr sadis, kalo kata bang iwan dalam lagunya "condet" - syair ronggowarsito jerit dan keringat gemuruhnya rolling stones - hmmm, kalo gitu kita bahasa mocopatnya aja deh ntar bahasnya kemana-mana lagi
mocopat menurut KBBI adalah macapat /ma·ca·pat/ n bentuk puisi Jawa tradisional, setiap baitnya mempunyai baris kalimat (gatra) tertentu, setiap gatra mempunyai jumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pd bunyi sanjak akhir (guru lagu; guru suara tertentu), msl Dandanggula, Kinanti, Maskumambang; tembang cilik
kalo menurut etimologi sendiri macapat adalah maca papat-papat atau membaca empat-empat maksudnya membaca setiap jalinan dalam empat kata
asal usul macapat sendiri masih simpang siur ada yang mengatakan macapat ada di zaman hindu bali dan muncul di jawa timur (kerajaan kediri) dan di bali, namun ada pula yang mengatakan bahwa macapat muncul di akhir zaman majapahit dan diciptakan oleh wali songo sebagai media dakwah oleh wali abangan seperti sunan kalijogo dan sunan muria (namun bagi orang yang percaya bahwa macapat adalah ciptaan zaman hindu budha, bagi mereka wali songo hanya merubah liriknya untuk kepentingan dakwah dan menyusupkan nilai-nilai kebajikan disana) adanya perbedaan ini justru membuktikan bahwa dengan akulturasi penyebaran islam di jawa menjadi cepat dan menyentuh semua kalangan bukan kaya sekarang main rusak dan bakar hehe
jumlah tembang macapat sendiri ada 11 (di beberapa versi ada 14) yaitu maskumambang, mijil, sinim, kinanthi, asmarandana, gambuh, dhandanggula, durmo, pangkur, megatruh, pocung (di beberapa versi ditambah dengan panjang, mahisa dan wukir) dan menraiknya lagi ternyata tiap tembang merepresentasikan kehidupan itu sendiri dimulai dari maskumambang dan (diketahui) berakhir pocung
- maskumambang - dalam kandungan
- mijil- mbrojol - lahir
menggambarkan keluarnya bayi ke dunia, setelah habis masa mengambangnya, watak lagunya saih lan tresna
- sinom - enom- muda
menggambarkan masa muda yang indah, guyub dan ramah tanpa tendensi macam-macam. watak lagu ini grapyak lan renyah
- kinanthi - kanthi - tuntunan
menggambarkan setelah melewati masa enom kita dituntun untuk membentuk watak, jatidiri dan menetukan arah hidup kita, kita siapa? mau kemana? ikut siapa? mau jadi apa?
- asmarandana - tresna - asmara
menggambarkan masa muda yang dipenuhi rasa cinta dipenuhi dengan dirundung asmara, dimabuk cinta atau apalah itu, ini menandakan akil baligh dan sudah mampu mengenali diri, jadi sebenarnya kita baru pantas memasuki tahap asmarandana kalo kita sudah melewati tahap kinanti. watak lagu ini sengsem
- gambuh - jumbuh - kecocokan
menggambarkan kalo kita sudah melewati tahap-tahap penuh kegalauan dalam asmarandana kita menemukan satu ujung yang menunjukkan kecocokan dan memilih jalan tersebut sebagai jalan hidup, dan bersiap untuk menyatukan dua kehidupan. watak lagu inikulina lan nepung-nepungke
- dhandhanggula - kasembadan - kesenangan
keberhasilan akan menyatukan hati dan keluarga sebagai salah satu cita-cita yang tercapai, hal ini berlaku juga untuk cita-cita lain yang tercapai. watak lagu inikulina lan nepung-nepungake
- durma - darma - dermawan
menggambarkan rasa syukur kepada tuhan kang maha kuasa dengan berbagi dan memberi
- pangkur - mungkur - menjauhi hawa nafsu
mungkur yang berarti menjauhi, dalam hal ini menjauhi berkonteks pada hawa nafsu. menggambarkan manusia yang menyingkirkan hawa nafsu ke duniawian, untuk mulai berkonsentrasi pada alam ke tuhanannya. watak lagu ini sereng lan tegas
- megatruh - megat roh - mati
megatruh dari kata megat (memutus) dan roh (ruh) yang berarti keluarnya roh dari badan wadag alias mati dan pada hakikatnya siklus mati sendiri bukan akhir kehidupan manusia. sifat lagu ini nglara lan sedih
- pocung - pocong
pocung alias pocong menunjukkan bahwa kita sudah dibungkus dan tidak bisa apa-apa dan kita akhirnya dimandikan, dishalatkan dan siap dikuburkan. watak lagu ini sembrana, gecul, ora ana greget saut
karena aku masih dalam tahap asmarndana (setidaknya menurutku sendiri huehehe) maka akan aku sadurkan sedikit lirik dari tembang asmarndana...
Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitané
Luput pisan kena pisan
Lamun gampang luwih gampang
Lamun angèl, angèl kalangkung
Tan kena tinumbas arta
Aja turu soré kaki
Ana Déwa nganglang jagad
Nyangking bokor kencanané
Isine donga tetulak
Sandhang kelawan pangan
Yaiku bagéyanipun
wong welek sabar narima
sumber tulisan ini dari obrolan hangat di burjo mang indra bersama mas fajar dan koko, dan ditambah referensi dari berbagai sumber
Post a Comment