Jelajah Pesisir Gunungkidul #1 : Pantai Pelabuhan Sadeng
Tengah pekan lalu aku bersama teman-teman satu kantor memulai kegiatan kerja sambil dilan atau dolan sambil kerja yaitu penjelajahan pantai selatan Gunungkidul.
Aku sendiri mendapat tugas yang paling mulia (sekaligus paling remek) sebagai transporter alias pengantar paket alias supir hehehe.
Berangkat dari kantor kami di Jogja tepat setelah dhuhur kita sempat makan siang di sekitar kompleks Pemkab Gunungkidul Wonosari dan aku makan mie ayam yang agak aneh.
Ya agak aneh karena minya menggunakan mi keriting yang kemudian dicampur dengan ayam yang dimasak berkuah kecap, pokoknya aneh tapi jebule enak.
Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan jadilah kita memutuskan untuk mencapai tempat terjauh dahulu sebagai tujuan pertama dan Pantai Sadeng jadi pilihannya.
Melewati jalan yang berkelok dengan tikungan-tikungan tajam serta tanjakan dan turunan yang kadang kurang manusiawi, pantai ini searah dengan Pantai Wediombo tapi masih ke timur lagi dan lagi.
Melewati tepian jurang yang disebut sebagai Bengawan Solo Purba dengan kontur turunan yang tajam sampailah kita disambut gerbang Pantai Pelabuhan Sadeng setelah perjalanan sekitar 1 jam dari pusat kota Wonosari dan total hampir 4 jam dari Kota Jogja (tambah mampir makan dan belanja logistik).
Mengenai sungai purba ini saya belum tau kenapa bisa ada bengawan solo purba setelah sebelumnya saya mengenal Gunung Purba di Gunungkidul juga, entah kenapa Gunungkidul ini identik dengan kata purba mungkinkah di zaman purba Gunungkidul lebih maju dari Jogja?. Lalu kalau namanya bengawan solo kenapa gak leeat solo dan justru beda jalur, bengawan solo ke utara dan sungai purba ini ke selatan. Ah saya harus cari tau lagi kapan-kapan.
Pantai Sadeng yang ada di Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul bukanlah pantai yang familiar bagi masyarakat apalagi wisatawan.
Pantai yang lebih dekat dengan Wonogiri Jawa Tengah daripada Jogja ini memang bukanlah tempat wisata umum, walaupun memiliki pantai berpasir putih yang berada di cekungan antara dua bukit karang yang menghasilkan air jernih dan tenang kalian tidak bisa berenang di sini.
Ya kalian tidak bisa berenang di sini karena sebagai pelabuhan perairan di sini sudah dipenuhi kapal berbagai jenis mulai kapal nelayan ukuran kecil, ukuran sedang yang dapat mengarungi lautan selama beberapa hari hingga kapal patroli milik polisi air.
Ada sedikit space di ujung barat pantai yang bisa digunakan untuk main air karena ada sedikit pasir putih dan deretan karang yang memang tidak dimanfaatkan untuk pelabuhan, tapi ya sedikit banget.
Beberapa properti khas pelabuhan jelas terlihat di sini seperti sejenis mercusuar, bebatuan pemecah ombak hingga sejenis gerbang yang terdiri atas dua warna ijo dan merah.
Yang paling menarik tentu saja tempat pelelangan ikan yang segar karena fresh langsung dari nelayan yang baru turun ngelaut, sayangnya kita ke sini sore pas TPInya udah bubar jadi gak dapat apa-apa deh (walaupun kalau masih ada apa-apa kita gak belanja juga sih hehe ).
Walaupun tidak bisa bebas bermain air sebagai gantinya kalian hanya bisa menikmati beningnya air kebiruan di sini dengan duduk-duduk syahdu di atas bongkahan-bongkahan beton pemecah gelombang.
Saat kita datang ada beberapa muda mudi yang nampak asyik nongkrong, walupun kelihatannya mereka akamsi bukan wisatawan.
Kita juga bisa menunggu sunset sambil melihat para nelayan memperbaiki kapal dan jaringnya sampai kemudian melepasnya ke laut lepas, sambil dada dada sambil nyanyi...
Sebagai orang yang lahir dan besar di kawasan pegunungan, pantai dan terutama laut membawakan perasaan kagum sekaligus takut dalam satu waktu.
Kagum akan keindahan birunya laut, luasnya lautan yang bisa dijelajahi serta tangguhnya orang-orang yang hidupnya melawan laut.
Di satu sisi ketakutan akan laut juga tidak kalah nyata, bayangan kengerian dan kegananasan ombak yang mampu menenggelamkan orang bahkan yang tercongkak sekalipun. Bayangan sebagai orang yang pernah hampir mati karena tenggelam walaupun saat itu TKP nya adalah sungai masih membayang dan sesekali kembali muncul.
Tapi di luar itu aku sangat menikmati keindahan Pantai Sadeng dan hembusan anginnya yang syahdu, duduk bersama anak-anak muda yang mencari tempat nongkrong serta melihat orang-orang bergelut dengan kehidupannya.
Awan gelap yang bergulung di ujung selatan langit menjadi pertanda bahwa kegiatan kami harus diakhiri, drone baru yang sedang bekerja mengambil gambar tidak bisa mengambil resiko rusak terkena air hujan.
Apalagi sebelumnya operatornya sudah muring-muring dan khawatir karena banyaknya burung camar yang melintas langit.
Benar saja belum sampai kami di mobil hujan sudah turun dengan derasnya, hujan deras itu pula yang mengiringi kami untuk meninggalkan Pantai Sadeng menuju destinasi kami selanjutnya.
Selamat berjuang pak nelayan, tuhan bersama orang-orang yang memperjuangkan keluarganya...
Aku sendiri mendapat tugas yang paling mulia (sekaligus paling remek) sebagai transporter alias pengantar paket alias supir hehehe.
Berangkat dari kantor kami di Jogja tepat setelah dhuhur kita sempat makan siang di sekitar kompleks Pemkab Gunungkidul Wonosari dan aku makan mie ayam yang agak aneh.
Ya agak aneh karena minya menggunakan mi keriting yang kemudian dicampur dengan ayam yang dimasak berkuah kecap, pokoknya aneh tapi jebule enak.
Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan jadilah kita memutuskan untuk mencapai tempat terjauh dahulu sebagai tujuan pertama dan Pantai Sadeng jadi pilihannya.
Melewati jalan yang berkelok dengan tikungan-tikungan tajam serta tanjakan dan turunan yang kadang kurang manusiawi, pantai ini searah dengan Pantai Wediombo tapi masih ke timur lagi dan lagi.
Melewati tepian jurang yang disebut sebagai Bengawan Solo Purba dengan kontur turunan yang tajam sampailah kita disambut gerbang Pantai Pelabuhan Sadeng setelah perjalanan sekitar 1 jam dari pusat kota Wonosari dan total hampir 4 jam dari Kota Jogja (tambah mampir makan dan belanja logistik).
Mengenai sungai purba ini saya belum tau kenapa bisa ada bengawan solo purba setelah sebelumnya saya mengenal Gunung Purba di Gunungkidul juga, entah kenapa Gunungkidul ini identik dengan kata purba mungkinkah di zaman purba Gunungkidul lebih maju dari Jogja?. Lalu kalau namanya bengawan solo kenapa gak leeat solo dan justru beda jalur, bengawan solo ke utara dan sungai purba ini ke selatan. Ah saya harus cari tau lagi kapan-kapan.
![]() |
| welcome... |
Pantai Sadeng yang ada di Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul bukanlah pantai yang familiar bagi masyarakat apalagi wisatawan.
Pantai yang lebih dekat dengan Wonogiri Jawa Tengah daripada Jogja ini memang bukanlah tempat wisata umum, walaupun memiliki pantai berpasir putih yang berada di cekungan antara dua bukit karang yang menghasilkan air jernih dan tenang kalian tidak bisa berenang di sini.
![]() |
| Pintu masuk kawasan pantai, bukan wisatawanable sekali |
Ya kalian tidak bisa berenang di sini karena sebagai pelabuhan perairan di sini sudah dipenuhi kapal berbagai jenis mulai kapal nelayan ukuran kecil, ukuran sedang yang dapat mengarungi lautan selama beberapa hari hingga kapal patroli milik polisi air.
Ada sedikit space di ujung barat pantai yang bisa digunakan untuk main air karena ada sedikit pasir putih dan deretan karang yang memang tidak dimanfaatkan untuk pelabuhan, tapi ya sedikit banget.
![]() |
| Kapal-kapal nelayan yang sedang leren |
![]() |
| Gerbang laut |
Yang paling menarik tentu saja tempat pelelangan ikan yang segar karena fresh langsung dari nelayan yang baru turun ngelaut, sayangnya kita ke sini sore pas TPInya udah bubar jadi gak dapat apa-apa deh (walaupun kalau masih ada apa-apa kita gak belanja juga sih hehe ).
Walaupun tidak bisa bebas bermain air sebagai gantinya kalian hanya bisa menikmati beningnya air kebiruan di sini dengan duduk-duduk syahdu di atas bongkahan-bongkahan beton pemecah gelombang.
Saat kita datang ada beberapa muda mudi yang nampak asyik nongkrong, walupun kelihatannya mereka akamsi bukan wisatawan.
![]() |
| Nongkrong dan ngegaul di batu pemecah gelombang |
![]() |
| Kalau kepingin banget main air, ada kok space sitik banget |
Kita juga bisa menunggu sunset sambil melihat para nelayan memperbaiki kapal dan jaringnya sampai kemudian melepasnya ke laut lepas, sambil dada dada sambil nyanyi...
Sebagai orang yang lahir dan besar di kawasan pegunungan, pantai dan terutama laut membawakan perasaan kagum sekaligus takut dalam satu waktu.
Kagum akan keindahan birunya laut, luasnya lautan yang bisa dijelajahi serta tangguhnya orang-orang yang hidupnya melawan laut.
Di satu sisi ketakutan akan laut juga tidak kalah nyata, bayangan kengerian dan kegananasan ombak yang mampu menenggelamkan orang bahkan yang tercongkak sekalipun. Bayangan sebagai orang yang pernah hampir mati karena tenggelam walaupun saat itu TKP nya adalah sungai masih membayang dan sesekali kembali muncul.
Tapi di luar itu aku sangat menikmati keindahan Pantai Sadeng dan hembusan anginnya yang syahdu, duduk bersama anak-anak muda yang mencari tempat nongkrong serta melihat orang-orang bergelut dengan kehidupannya.
Awan gelap yang bergulung di ujung selatan langit menjadi pertanda bahwa kegiatan kami harus diakhiri, drone baru yang sedang bekerja mengambil gambar tidak bisa mengambil resiko rusak terkena air hujan.
Apalagi sebelumnya operatornya sudah muring-muring dan khawatir karena banyaknya burung camar yang melintas langit.
Benar saja belum sampai kami di mobil hujan sudah turun dengan derasnya, hujan deras itu pula yang mengiringi kami untuk meninggalkan Pantai Sadeng menuju destinasi kami selanjutnya.
Selamat berjuang pak nelayan, tuhan bersama orang-orang yang memperjuangkan keluarganya...
![]() |
tuhan bersama orang-orang yang memperjuangkan keluarganya...
|









Post a Comment