Header Ads

Batik Bola, Geliat Inovasi Di Tengah Upaya Menjaga Tradisi #BatikIndonesia

Tiga orang legenda klub sepakbola Inggris Liverpool mengenakan batik bola saat berkunjung ke Indonesia
Source: lfctour.com


Beberapa waktu lalu batik bola sempat menjadi fenomena, memadukan motif khas batik dengan lambang klub sepakbola terkenal untuk kemudian dituangkan dalam pakaian menjadi tren baru dalam dunia industri batik.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa batik bola sebenarnya bukan batik karena kebanyakan adalah batik cap dan cetak nyatanya batik bola tetap melaju mulus karena memiliki banyak penggemar.

Bukan hanya diaplikasikan dalam kemeja baik lengan panjang dan pendek, namun motif batik bola juga diterapkan dalam kaos.

Entah dari mana awalnya logo klub bola disatukan dengan batik, yang jelas dalam skala tertentu keberadaan batik bola ini seolah kembali membuat batik dilirik anak muda.

Anak-anak muda pada akhirnya bisa tetap berangkat nobar Liverpool FC tepat seusai kita menghadiri acara nikahan teman di malam minggu tanpa harus ganti kostum tentunya.

Selain tema batik bola sebenarnya modern ini batik termasuk di Jogja sudah berkembang pesat tidak hanya motif tradisional seperti Kawung, Parang Kusumo, Truntum dan lainnya namun banyak juga perpaduan motif lain yang lebih abstrak dan tidak umum.

Yang terbaru M Nur Ihsan, owner Smart Batik yang juga baru saja mendapatkan penghargaan Pemuda Pelopor Kota Yogyakarta bidang Sosial, Budaya, Pariwisata, dan Bela Negara 2016 malah membuat batik bermotif virus setelah sebelumnya pernah membuat motif transportasi hingga kesehatan.
M Nur Ihsan, owner Smart Batik memamerkan batik motif virus terbarunya
(Uny.ac.id)


Walaupun kini bisnis batik bola sudah mulai menurun namun setidaknya ini bisa membuktikan bahwa batik tidak pernah ketinggalan zaman dan terlalu tua untuk dipakai anak muda.


Bahwa dengan inovasi batik bisa menempatkan diri dalam berbagai segi sesuai dengan porsinya masing-masing.

Kreatifitas para seniman itu menurut saya sendiri bukanlah ancaman buat tradisi adiluhung batik sendiri sebagai sebuah proses pengiluminasian filosofi luhur seperti motif Parang Kusumo yang mengandung makna bahwa sebuah kehidupan harus dilandasi dengan perjuangan dan usaha yang nyata dalam mencapai keharuman lahir dan batin.

Batik sebagai sebuah tradisi bukan hanya sekedar gaya hidup akan terus dilestarikan di sudut-sudut kampung Yogyakarta oleh para wanita yang masih mau mengangkat dan menggoreskan cantingnya.

Selama canting-canting masih terus bergerak mengikuti kemauan pemegangnya di sudut Giriloyo Imogiri maka batik yang penuh tradisi juga tidak akan mati.

Inovasi adalah keharusan sehingga batik bisa tetap bertahan di era modern ini, namun tradisi tetap harus jadi nafas dan jiwa agar batik tak sekadar jadi pakaian semata seperti kain lainnya.

Pembatik tradisional menggoreskan canting di kain
(Flickr.com)


2 comments:

Powered by Blogger.