kebenaran hanyalah kesepakatan
"kebenaran itu hanyalah kesepakatan bersama, kalian meyakini 2+2=4 karena dari dulu orang sepakat seperti itu, kalo dari dulu 2+2=3 maka kita akan dianggap gila jika 2+2 masih kita anggap 4, begitu pun nilai kuliahmu ada bernilai B karena kamu sudah menemukan kesepakatan dengan dosenmu dalam artian dia memberi kamu menerima sepakat dan jadilah nilaimu yang dianggap dan dijadikan kebenaran"
begitulah uraian tentang kebenaran yang dipaparkan temanku ini tadi pagi,dan dia baru pulang dari purwakarta dengan membawa oleh-oleh kebenaran ini huehehe
kemaren ada sebuah berita yang menarik perhatian saya yaitu pernyataan paus katolik baru yang memang terkenal liberal ini menyatakan bahwa ia percaya tuhan namun bukan tuhan katolik, yang pada intinya ia percaya tuhan itu universal dan katolik hanyalah sebuah jalan yang menurut penafsiran saya paus ingin menyampaikan bahwa katolik itu jalan menuju tuhan dan tidak menutup kemungkinan jalan lain terlepas dari seperti apa kondisi jalan itu. sebuah pemikiran yang sangat mengejutkan dari orang sekelas paus yang memimpin vatikan yang sedemikian rigid dan keras dalam menjalankan prinsip2nya dan tentu saja kebenaran-kebenaranya (ini hanya secuil sudut pandang saya, yang saya sendiri seorang muslim sehingga mungkin saya memang sangat kurang mengerti akan sistem kepausan dan ke vatikan-an, sorry if something wrong)
menyambung cerita tentang vatikan ada cerita lama tentang kesepakatan dan kebenaran, tentang seorang ilmuwan yang begitu berdedikasi pada dunia astronomi, denga teleskop yang ia sempurnakan ia menemukan kebenaran bahwa matahari adalah pusat tata surya, namun sayangnya kebenarannya tidak menemui kesepakatan dengan pihak gereja yang menganggap bumi sebagai pusat tata surya, dan bagusnya lagi tentu saja masyarakat mengikuti gerja, makin tidak tercapailah kesepakatan untuk kebenaran itu, dan hasil akhirnya dianggaplah ia kafir di hukum tahana rumah, dan mati dalam keadaan buta dan terasing, walaupun tahun 1992 namanya sudah dipulihkan namun itu tidak menghapus sejarah yang mengatakan bahwa dulu solar sistem bukanlah kebenaran karena tidak tercapainya kesepakatansejarah tergantung pada yang berkuasa dan begitulah kebenaran diciptakan
aku jadi berfikir kalo kebenaran saja bisa diputar balikkan dan dikompromikan seperti itu, apalagi kalo cuma sekedar omongan, hari ini ngomong anti korupsi besok ditangkap tangan sedang disuap, hari ini ngomong bela rakyat besoknya perusahaanya gusur tanah sengketa, hari ini ngomong cinta besok sudah pergi tanpa alasan... dan dimanakah kita harusnya mencari kepastian itu?
mungkin pesan dari jayabaya dalam peninggalan terkenalnya yaitu "ramalan Jayabay" bisa menjadi renungan buat kita "sak beja-beja ne wong kang lali, isih luwih beja wong kang iling lan waspada" semoga kita menjadi "wong kang iling lan waspada"
mungkin pesan dari jayabaya dalam peninggalan terkenalnya yaitu "ramalan Jayabay" bisa menjadi renungan buat kita "sak beja-beja ne wong kang lali, isih luwih beja wong kang iling lan waspada" semoga kita menjadi "wong kang iling lan waspada"
Post a Comment