Surat Yang Tak Pernah Tersampaikan
Halo dear...
Apa kabarmu? sehat kan? masihkah murah senyum seperti terakhir kita bertemu? ah iya kadang-kadang cemberutmu juga manis kok, kau memang dicptakan tuhan seperti itu ya? manis kala senyum maupun cemberut hehe
Aku memang beberapa kali melihatmu sekilas di beberapa media sosial tapi namanya juga sekilas, ini seperti meminum segelas es teh setelah kau berjalan kaki cukup jauh, untuk kemudian kau dipaksa berjalan lagi dan nikmatnya es teh itu hanya kau rasakan sekecap *dalam arti sebenarnya
Malam ini entah dari mana asalanya aku memimpikanmu, ah mimpi itu bagus lho, kelewat bagus malah ah gusti allah itu benar-benar ya muqallibal qulub memang. mimpi itu sebenarnya sederhana, realistis dan membahagiakan secara umum, namun mungkin kau juga tahu tak semudah itu kenyataannya dalam perspektifku, tidak perlu menggunakan frasa "andai kamu adalah aku" kamu tahu itu sangat susah hampir menjadi buram untuk kemudian gelap buat aku
Aku pun masih bertanya makna mimpi itu, gusti allah tentunya gak ngasih mimpi itu dengan jalur kocokan kan ya, tapi ekses setelah mimpi itu lah yang jadi persoalan buat aku tentu saja, bukan masalah besar hanya masalah hati yang sedikit dibolak balik
Masalahnya aku sendiri pun kurang tahu bagaimana menafsirkan mimpi itu, aku sendiri percaya mimpi itu bisa jadi firasat dan penafsiran, tapi berat kayanya menafsirkan mimpi satu ini
Dan semoga tetap bahagia buat kita semua, kata orang ikuti saja jalurnya bukankah kita sama-sama tidak tahu kemana jalan ini berakhir? seberapa hebat kita menerka dan mempersiapkan, pada akhirnya kita manut sama guti allah kan?
-Jakarta, Minggu, 9/2/2014-
Apa kabarmu? sehat kan? masihkah murah senyum seperti terakhir kita bertemu? ah iya kadang-kadang cemberutmu juga manis kok, kau memang dicptakan tuhan seperti itu ya? manis kala senyum maupun cemberut hehe
Aku memang beberapa kali melihatmu sekilas di beberapa media sosial tapi namanya juga sekilas, ini seperti meminum segelas es teh setelah kau berjalan kaki cukup jauh, untuk kemudian kau dipaksa berjalan lagi dan nikmatnya es teh itu hanya kau rasakan sekecap *dalam arti sebenarnya
Malam ini entah dari mana asalanya aku memimpikanmu, ah mimpi itu bagus lho, kelewat bagus malah ah gusti allah itu benar-benar ya muqallibal qulub memang. mimpi itu sebenarnya sederhana, realistis dan membahagiakan secara umum, namun mungkin kau juga tahu tak semudah itu kenyataannya dalam perspektifku, tidak perlu menggunakan frasa "andai kamu adalah aku" kamu tahu itu sangat susah hampir menjadi buram untuk kemudian gelap buat aku
Aku pun masih bertanya makna mimpi itu, gusti allah tentunya gak ngasih mimpi itu dengan jalur kocokan kan ya, tapi ekses setelah mimpi itu lah yang jadi persoalan buat aku tentu saja, bukan masalah besar hanya masalah hati yang sedikit dibolak balik
Masalahnya aku sendiri pun kurang tahu bagaimana menafsirkan mimpi itu, aku sendiri percaya mimpi itu bisa jadi firasat dan penafsiran, tapi berat kayanya menafsirkan mimpi satu ini
Dan semoga tetap bahagia buat kita semua, kata orang ikuti saja jalurnya bukankah kita sama-sama tidak tahu kemana jalan ini berakhir? seberapa hebat kita menerka dan mempersiapkan, pada akhirnya kita manut sama guti allah kan?
-Jakarta, Minggu, 9/2/2014-
Post a Comment