KIsah Mengharukan Anak Difabel Dengan Prestasi Membanggakan
Nasib memang tidak bisa diminta apalagi ditolak, namun bagaimana cara menjalani hidup adalah pilihan kita.
Sejak umur 2 tahun mata kiri Alexander Farrel Rasendriya yang kini berusia 15 tahun warga Klaten jawa Tengah sudah tidak berfungsi akibat kanker retino blastoma, masalah berlanjut saat dia berumur 5 tahun dimana mata kanannya menyusul dan dia sama sekali tidak bisa melihat.
Sejak umur 2 tahun mata kiri Alexander Farrel Rasendriya yang kini berusia 15 tahun warga Klaten jawa Tengah sudah tidak berfungsi akibat kanker retino blastoma, masalah berlanjut saat dia berumur 5 tahun dimana mata kanannya menyusul dan dia sama sekali tidak bisa melihat.
Namun
di tengah segala keterbatasannya nyatanya Farrel mampu meraih prestasi yang membanggakan, kekurangannya dijadikan pemicu untuk menjadi lebih baik.
Bersekolah di sekolah umum bukannya SLB, Farrel menuai banyak prestasi. Bukan hanya di sekolahnya yang bercampur dengan anak normal namun juga sanggup berprestasi di tingkat nasional selain menjadi juara pertama olimpiade sains nasional dia juga pernah mendpat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia.
Bersekolah di sekolah umum bukannya SLB, Farrel menuai banyak prestasi. Bukan hanya di sekolahnya yang bercampur dengan anak normal namun juga sanggup berprestasi di tingkat nasional selain menjadi juara pertama olimpiade sains nasional dia juga pernah mendpat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia.
"Dari awal saya periksa tau
dia seperti itu (terkena kanker retino blastoma) saya langsung syok,
tapi yang paling berat pas usia 5 tahun itu dia kan masih tk," cerita
sang ibu Emi Tri Ratnasari saat menemani sang anak menghadiri acara 'Aku
Bangkit, Sakitku Bukan Penghalangku' di RSUP dr Sardjito beberapa waktu yang lalu.
Emi menceritakan dia
sangat syok melihat putra pertamanya tersebut sudah kehilangan salah
satu indranya di usia sekecil itu, Untunglah saat itu dia melihat
anaknya yang tabah sehingga dia ikut terpacu untuk memberikan yang
terbaik.
Berbagai pengobatan dan terapu
dilakukan untuk anaknya termasuk harus bolak balik ke RSUP dr Sardjito
yang berjarak puluhan kilometer dari rumahnya di Klaten.
Satu hal yang dipelajari dari sang anak adalah semangat pantang menyerah yang tak pernah padam, dia juga menolak menjadi anak yang harus dikasihani.
Farel disekolahkan di sekolah umum bersama anaknya yang lain dan
hasilnya tidak mengecewakan, selain berprestasi di sekolah dia juga
meraih prestasi di tingkat nasional.
Pemuda
yang baru saja lulus dari SMP Putra Bangsa Klaten tersebut mampu meraih
berbagai penghargaan seperti rekor MURI untuk tunetra temuda yang bisa
mengoperasikan 14 program komputer di tahun 2009, juara pertama
olimpiade sains nasional kategori MIPA tahun 2011, juara Olimpiade Sains
Nasional kategori matematika tahun 2015 dan lainnya.
Pemuda yang mahir bermain gitar tersebut menyebut kunci dari keberhasilannya adalah tidak putus asa dan jangan menyerah.
Menurutnya
sejak kecil dia sudah menerima takdirnya, sejak didiagnosis menderita
kanker dia sudah tau kalau dia memikiki resiko kehilangan pandangannya.
Bersekolah
di tempat umum bersama anak lain yang memiliki indra normal juga tidak
membuat pemuda yang bercita-cita jadi pengajar tersebut kesulitan karena
nyatanya guru dan teman-temannya mampu memahaminya.
Ibunya
sendiri mendukung karena selain disekolahkan di tempat umum, dalam
beberapa waktu dia juga masih tetap diberikan kursus khusus tunanetra
agar bisa mengejar ketertinggalan dengan siswa lain.
Dia
berharap anak-anak kecil yang saat ini menderita kanker agar jangan
mudah berputus asa karena selama ada kemauan dan kerja keras semua hal
bisa dilakukan.
"Pokoknya tetap semangat jangan
menyerah jangan putus asa, kalau kita ada kekurangan tapi selalu ada
kelebihan masing-masing saya percaya itu," ujar Farrel.
Sementara
sang ibu juga mengingatkan para orang tua yang memiliki anak
berkebutuhan khusus untuk selalu sabar dan telaten dalam memberikan
perhatian pada anaknya, karena mereka pasti lebih membutuhkan orang
tuanya daripada yang lain.
"Saya paham kalau
memounyai anak spesial seperti ini memang berat saya awalnya juga syok,
tapi yang paling utama memang orangtuanya. Kalau orang tua dapat
menanganinya dengan baik maka hal terburuk yang terjadi akan menjadi hal
yang baik," pungas Emi.
Tetap semangat Farel, dan semoga kita yang dikaruniai hidup normal bisa lebih bersyukur dan menjadi insan yang lebih baik...
Tetap semangat Farel, dan semoga kita yang dikaruniai hidup normal bisa lebih bersyukur dan menjadi insan yang lebih baik...

Post a Comment