Kisah Pantang Menyerah dari Anak Kulonprogo Harumkan Nama Indonesia di Skotlandia
Timnas Indonesia menorehkan namanya di Homeles World Cup 2016 yang digelar di Skotlandia beberapa waktu lalu, tidak jadi juara memang tapi menjadi peringkat ketujuh dan hanya kalah dari Meksiko yang akhirnya menjadi juara sudah cukup luar biasa.
Hal ini ditambah dengan prestasi kipernya Eman Sulaiman yang jadi kiper terbaik di ajang ini.
Memang HWC bukanlah ajang yang berada dalam kalender FIFA karena memang diperuntukkan bagi kaum terpinggirkan.
Karena bagi kaum terpinggirkan maka kata kegigihan pantang menyeah dan kerja keras menjadi kalimat yang dekat dan melekat kepada mereka, tak terkecuali bagi pemain asal Kulonprogonya Antonius Dhimas Anindhito.
Pemuda asli Kulonprogo pernah 3 kali gagal masuk seleksi sebelum akhirnya terpilih kedalam tim, dia yang di Jogja setiap harinya menjadi pengamen dan seniman keliling sudah ikut seleksi sejak 2013 namun selalu gagal.
Dengan latihan keras, akhirnya tim yang dibelanya berhasil melaju sampai 8 besar kejuaraan tersebut dan jadi satu-satunya tim Asia yang sampai ke babak tersebut.
Hasil ini cukup baik mengingat tiga tahun belakangan, prestasi Indonesia terus melorot. Tahun 2013 di Poznań, Polandia, Indonesia berhasil mencapai perempat final dan menduduki peringkat 8. Setahun berikutnya di Santiago, Chile, melorot ke urutan 10. Tim Indonesia kembali melorot ke peringkat 17 saat HWC 2015 digelar di Amsterdam, Belanda.
"Walau hanya sampai oeringkat 7 sangat berarti sekali, kami gak merasa kalah dan menyesal apalagi yang mengalahkan kita adalah Meksiko yang kemudian jadi juara," kenang Dito.
Selain sepakbola banyak hal lain terutama makna kehidupan yang didapatkannya mulai teman baru hingga orang-orang tidak beruntung namun dengan semangat tinggi dari seluruh dunia.
Namun diantara itu semua, satu hal yang sampai kini masih selalu terkenang dan membuatnya terharu adalah mampu menyanyikan lagu Indonesia Raya di negeri orang.
"Menyanyikan indonesia raya di negeei orang itu luar biasa, wah pas nyanyi speechles sampai gak bisa nangis," ujarnya.
Indonesia sendiri diceritakannya menjadi sorotan selama di Indonesia, pertama karena aksi heroik dari sang kiper serta gaya rambut seragam menjadi ciri khas tim.
Bahkan saking menariknya tim Indonesia beberapa jurnalis asal Tiongkok dan Jepang sampai mengikuti tim hingga hotel tempat menginap.
"Saya sempat diajak ngobrol sama tim lain, mereka bilang Indonesia itu keren orangnya kecil2 tapi main bolanua taktis, dan yang pasti kalah menang tetap guyu-guyu, main, gitaran," ujarnya sambil tertawa.
Jalan Hidup Berliku.
Jalan hidup yang dilalui Dito memang berliku, merantau ke Yogaykarta sejak tahun 2010 dia tak pernah punya kehidupan yang menentu karena sehari-harinya hanyalah mengamen dari jalan ke jalan.
Untuk tidurpun dia kebanyakan menumpang dari satu teman ke temannya yang lain, bahkan kehidupan tersebut membuatnya dijauhi beberapa temannya.
"Kadang ada stigma negatif tentang saya jangan main sama Dito nanti ketularan jelek dan sebagainya," ceritanya mengenang.
Untunglah dia kemudian berkenalan dan menjadi 'anak didik' dari seniman Yogyakarta yaitu Tejo Badut yang membimbing dan mengasuhnya dengan telaten di jalanan
"Sama pak tejo dia telaten gak pernah dipaksa kudu gini kudu gini, belajar sendiri tambah-tambah kenalan," ujarnya.
Dari jalan pula dia mengenal Rumah Cemara yang menjadi fasilitator HWC di Indonesia, di sana pula dia merasa mendapatkan kenyamanan karena mereka selalu memandang setiap orang sama dan menyingkirkan stigma negatif yang melekat padanya.
"Selalu kangen sama rumah cemara, di sana saya banyak dapat ilmu tentang kehidupan bagaimana perbedaan, menghilangkan stigma dan diskriminasi. Di jogja belum ada yang seperti itu walaupun sudah digembor-gemborkan," ujarnya.
"Saya bisa merasa diterima, di jogja saya ini korban stigma," tambahnya.
Kini setelah pulang mengikuti HWC, kondisinya sudah lebih baik bahkan dirinya sudah diterima bekerja sebagai kru di salah satu stasiun tv lokal.
Walaupun begitu dia tetap tidak melupakan darimana dia berasal sebagai anak jalanan yang pernah menjadi korban stigma negatif masyarakat.
"Sekarang bangga tapi kadang gak enak, aku bukan siapa-siapa masih orang yang kemarin," ujarnya.
Kini dia berharap masih dapat terus berkiprah dalam hal pelayanan sosial dan memperjuangkan kampanye anti diskriminasi, dia juga berharap anak-anak yang selama ini masih ada di jalanan dan kadang dikucilkan masyarakat agar tetap bermimpi dan jangan berkecil hati.
Gusti Ora Sare (Tuhan tidak tidur)
"Jangan takut mencoba dan harus punya kemauan untuk berkembang. Harus mulai dari diri sendiri gak bisa dipaksa janan pernah merasa kecil, kalau pikiran kita sudah hanya disitu ya kita selamanya akan di situ gak kemana-mana," ujarnya.
Semangat Mas Dito semoga gak ada lagi diskriminasi yes di Indonesia
Sudah sejauh apa kita mengharumkan negeri ini? semoga kita bisa ya...


Post a Comment