relativitas surga
aku punya banyak teman ngobrol (debat) dan apa yang kita sering obrolkan itu macem-macem dari hal yang penting dan serius, penting namun tidak di-serius-kan, agak-agak penting, sampe yang gak penting sama sekali dan teman ngobrol saya pun bermacam-macam pula ada yang argumentatif, ada yang liberal, ada yang ofensif, ada defensif, egaliter, sampai nerimonan hehe beruntung sekali saya punya teman seperti mereka
walaupun pada dasarnya saya mempercayai bahwa segala sesuatu itu relatif dan gak bisa dipaksakan, bahkan urusan akidah sekalipun, jadi kalo sekarang ada sekelompok orang suka memaksakan kehendak mereka bahkan untuk urusan agama sekalipun kalo kata gus mus sih "mereka ngajinya baru sampe bab ghodhob (marah) sudah berhenti padahal itu masih dasar masih ada bab tawadhu dan sebagainya jadi wajar kalo sedikit-sedikit marah" setuju gus, allahu akbar kok diumbar sembarangan kaya mau perang badar emange gusti allah tuli
relatif menjadi suatu kata yang harus dipahami dan aku meyakini semua yang ada di dunia ini relatif bagi tiap manusia dan hanya pasti buat gusti allah, saya pernah mendengar cerita atau saya sebut gagasan yang menarik tentang konsep surga bagi bangsa viking atau skandinavia bangsa yang lebih saya kenal di film-film dengan segala heroismenya dan of course the famous topi bertanduknya. bangsa viking mengenal konsep Valhalla sebagai surga tempat kembalinya orang-orang yang baik dan pantas masuk ke surga, jadi setelah mereka meninggal mereka akan bangkit dan disuguhi makanan, alkohol, anggur dimana mereka makan, mabuk dan tertawa sampai puas setelah itu mereka akan bertarung, berperang sampai semua mati lalu dihidupkan untuk pesta dan kemudian mati lagi dimana siklus itu terus berulang. saya berpikir keras surga macam apa itu? tapi bagi mereka itulah surga! kalo surga seperti itu mungkin neraka bagi mereka adalah tempat yang sunyi, damai, dengan dengan taman taman indah dan buah-buahan ranum, namun tanpa anggur dan peperangan. yes thats so paradoks
apa yang ingin aku katakan adalah bahwa konsep surga yang sangat universal dan diakui semua agama sebagai tempat terbaik yang mungkin dicapai manusia pun ternyata tidak seuniversal yang saya bayangkan, setiap orang punya surga sendiri yang hanya dia dan tuhan yang tahu, apalagi untuk hal-hal yang di dalam komunitas sendiri masih diperdebatkan, dan sesungguhnya butuh kearifan dan kesabaran lebih untuk mampu melihat dan memaknai kebenaran yang ada di masyarakat, sampai titik inilah kita akan merindukan sosok seperti Gus Dur, Gus Mus dan Gus Miek
seperti halnya kebenaran yang komunal, kebahagiaan pun sangat relatif, ada yang bahagia ketika mendapat nila kuliah dan IP yang bagus terlepas apakah dia punya banyak teman ataupun tidak, ada yang bahagia ketika sewaktu kuliah bisa mencari duit sendiri terlepas kuliahnya bisa ikut ujian atau tidak (jangan anda tanyakan IP pula), ada yang bahagia kerja jadi PNS, ada yang lebih senang jadi wirausaha semua orang punya pilihan hidupnya sendiri, tidak ada orang yang boleh memaksakan kehendak orang lain, dan tidak pula kita harus mengikuti kebahagiaan orang lain kalo hanya sekedar untuk bahagia, dan ini juga berlaku buat para pasangan bahwa kebahagiaan mu belum tentu menjadi bahagianya, keinginanmu belum tentu menjadi keinginannya, laki-laki memang harus memahami tapi perempuan pun harusnya berkomunikasi dan bahwasanya komunikasi itu dua arah alias timbal balik, ahhh go to hell with your code
sekian semoga kita menemukan surga kita
- cerita surga viking tersebut aku baca dari buku si cacing dan kotoran kesayangannya, karya Ajahn Brahm -

Post a Comment