Menikmati Segarnya Dawet Ngudi Roso Yang Pertama di Bogem
Jika anda menuju Yogyakarta dari arah Solo dan sekitarnya, seusai situs Candi Prambanan atau tepatnya di Jl Solo KM16 Bogem Kalasan Sleman anda akan menemui banyak penjual minuman dawet di sepanjang bahu jalan.
Minuman dengan bahan baku cendol yang disiram dengan kuah santan dan dibari pemanis dari gula jawa tersebut selalu ramai disesaki para pejalan yang ingin melepas dahaga sebelum melanjutkan perjalanannya.
Diantara banyaknya penjual dawet yang ada di sana, ada satu penjual lapak penjual dawet yang selalu ramai diserbu pengunjung bahkan banyaknya pengendara yang berhenti di sana kadang sampai membuat jalanan di sana tersendat.
Warung dawet tersebut adalah Warung Es Dawet Ngudi Roso yang mengklaim sebagai penjual dawet pertama di kawasan tersebut.
Parno Cipto (52) warga asli Klaten adalah pionir berdirinya warung dawet tersebut di sana sejak tahun 1990.
Dia menceritakan awalnya dirinya berjualan bubur kacang hijau dari kampung ke kampung, namun sejak 1990 dengan berbekal resep dari mertuanya dia mulai berjualan dawet dan biasa mangkal di depan Kantor BPCB Yogyakarta yang berjarak sekitar 1km dari tempatnya berjualan saat ini.
Namun sejak 2008 kawasan di sekitar Kantor BPCB Yogyakarta ditertibkan dan dilarang digunakan untuk berjualan karena mengganggu lalu lintas dan aktifitas di sekitar kantor tersebut, hingga kemudian dia pindah ke tempatnya sekarang yang berada tepat di seberang Juru Supit Bogem.
Saat ini dia sudah tidak sendirian mengelola warungnya karena sudah dibantu oleh seorang anaknya serta satu orang karyawan yang lain.
Racikan santan yang pas dipadu dengan cairan gula jawa dan ditambah tape beras yang tidak berlebihan membuat dawet racikan cipto memiliki kesegaran yang unik, dawet khas Klaten buatan Cipto jelas berbeda dengan dawet Banjarnegara yang selama ini lebih dikenal masyarakat.
Perbedaan paling kentara terlihat pada bahan baku cendol yang menggunakan sagu aren, sementara dawet Banjarnegara menggunakan beras.
Harga yang ditawarkan untuk segelas kesegaran dawet buatan Parno pun sangat murah hanya 3000 rupiah tiap porsinya, dan apabila anda tidak suka dengan asamnya tape ketan maka harganya hanya 2500 rupiah.
Harga yang terjangkau memang sudah menjadi prinsip jualan Parno sehingga usahanya bisa awet selama puluhan tahun.
Hal lain yang selalu diperhatikan Parno adalah kebersihan baik itu warungnya maupun peralatannnya tak luput dari sesuatu yang selalu dijaganya.
Setiap harinya sekitar 800 porsi dawet hampir selalu ludes tak bersisa, dia yang biasa buka sekitar pukul 09.00 WIB biasanya akan habis paling lama sekitar pukul 17.00 WIB.
Namun ketika cuaca terik menyengat maka itu adalah keuntungan lain karena dia mengaku bisa habis dua jam lebih cepat.
Kalau anda berwisata ke Yogyakarya dari arah Solo atau wilayah timur dan menggunakan kendaraan pribadi sangat disarankan anda bersitirahat dan menikmati kuliner ringan yang satu ini.



Yuhuuu minn sgerr banget
ReplyDeleteseger banget #back
ReplyDelete